Mediatha.Com,Mamuju—Ada sebuah pepatah tua yang mengatakan bahwa kasih anak sepanjang galah, tapi kasih ibu dan ayah sepanjang masa. Kalimat menyayat hati inilah yang tergambar jelas dalam sebuah tragedi keluarga di Desa Toabo, Kecamatan Papalang, Kabupaten Mamuju.
Setelah menerima laporan memilukan dari warga, Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Polsek Kalukku bergerak cepat mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP) kasus penganiayaan. Namun, di balik ketegangan hukum yang terjadi, para petugas justru menyaksikan langsung betapa luasnya samudera kesabaran dan kasih sayang seorang ayah.
Kapolsek Kalukku, AKP Hadaming, saat dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa memilukan tersebut.
“Benar, seorang pria berinisial SP (30) diduga kuat tega melakukan penganiayaan terhadap ayah kandungnya sendiri, yang berinisial BC (60),” ujar AKP Hadaming dengan nada prihatin.
Peristiwa kelam ini bermula ketika pelaku pulang ke rumah dalam keadaan mabuk akibat pengaruh minuman keras tradisional jenis ballo. Tak hanya itu, pelaku yang diketahui gemar bermain judi online ini langsung mendatangi ayahnya dengan maksud meminta uang.
Karena permintaan tersebut tidak dipenuhi, amarah pelaku menyala. Cekcok mulut pun tak terhindarkan. Dalam kondisi emosi yang tak terkontrol, pria berusia 30 tahun itu tega mendorong tubuh ringkih ayah kandungnya sendiri.
Tubuh sang ayah terjatuh dan menghantam kaca cermin hingga hancur. Akibatnya, sang ayah mengalami luka robek yang cukup parah di bagian siku kiri. Melihat darah mengucur dari tubuh orang tua yang telah membesarkannya, pelaku bukannya menolong, melainkan langsung melarikan diri meninggalkan lokasi kejadian.
Melihat kondisi tersebut, salah satu anak korban yang tidak tega langsung melaporkan peristiwa ini ke Polsek Kalukku agar segera ditindaklanjuti.
Mendapat laporan tersebut, Tim URC Polsek Kalukku langsung bergerak melakukan penyelidikan dan memburu pelaku. Namun, saat petugas bersiap untuk menangkap SP, sebuah kalimat keluar dari mulut sang ayah sebuah kalimat yang seketika meruntuhkan ketegangan dan menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya.
Dengan kondisi tangan yang masih terluka, sang ayah, BC (60), justru meminta polisi untuk tidak menangkap anaknya. Ia memohon agar urusan ini tidak dibawa ke ranah hukum.
“Dari hasil penyelidikan di lapangan, saat Tim URC Polsek Kalukku hendak melakukan penangkapan, korban justru menyampaikan bahwa persoalan ini tidak perlu dibawa ke ranah hukum. Mengapa? Karena pelaku adalah anak kandungnya sendiri,” ungkap Kapolsek dengan nada haru.
Di saat hukum siap ditegakkan dan sang anak pantas menerima balasan atas kebebalannya yang kerap mabuk dan berjudi, hati seorang ayah justru memilih jalan pintas bernama “maaf”. Luka di sikunya yang berdarah seolah tak ada artinya dibanding rasa cintanya kepada sang anak.
Sikap mulia sang ayah ini menjadi tamparan keras sekaligus pelajaran berharga tentang arti cinta tanpa syarat.
Sikap korban yang tetap memaafkan anaknya, meski telah menjadi korban penganiayaan secara fisik, menunjukkan betapa tak terbatasnya besarnya kasih sayang seorang ayah kepada anaknya,” tutup AKP Hadaming.
Kini, meski proses hukum diredam oleh air mata maaf sang ayah, masyarakat berharap sang anak dapat tersadar bahwa di dunia ini, tidak akan ada tempat berlindung yang paling aman selain di dalam ketulusan hati orang tua yang telah ia lukai. ( Bas )

