Cadika Limbng Bukan Sekadar Lahan, Tapi Jejak Sejarah dan Ruang Pengkaderan Pramuka Gowa

oleh
oleh

Mediatha.Com,Gowa—Cadika Limbung merupakan aset resmi Pemerintah Daerah (Pemda) Gowa. Namun, menilik sejarahnya, sejak tahun 1975 kawasan ini telah diperuntukkan secara khusus sebagai Bumi Perkemahan Pramuka.

Penyerahan legalitasnya pun tertuang secara resmi dalam sertifikat. Oleh karena itu, Cadika bukan sekadar aset biasa, melainkan bagian dari sejarah panjang pembinaan generasi muda di Kabupaten Gowa.

Hal tersebut ditegaskan oleh Faisal Salahuddin Marowa, Purna Bhakti Kepala Bumi Perkemahan Cadika periode 2020–2024. Menurutnya, komitmen pemerintah terhadap kawasan ini sebenarnya sudah terlihat nyata dalam beberapa tahun terakhir.

“Sejak tahun 2020, kawasan Cadika telah direvitalisasi oleh Pemerintah Daerah selama empat tahun berturut-turut. Anggaran yang tidak sedikit telah digelontorkan demi memaksimalkan pengelolaan bumi perkemahan tersebut agar menjadi pusat kegiatan kepemudaan dan kepramukaan yang representatif,” ujar Faisal.

Namun, belakangan muncul rencana pengalihfungsian lahan Cadika Limbung untuk pembangunan sekolah rakyat. Sementara itu, fasilitas bumi perkemahan rencananya akan dipindahkan ke lahan kosong di daerah Parangloe atau Pattallassang. Rencana ini sontak menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat, khususnya di kalangan alumni dan kader Pramuka.

Faisal menyayangkan jika kebijakan tersebut benar-benar direalisasikan. Ia mempertanyakan urgensi pemindahan pusat sejarah Pramuka tersebut, mengingat masih ada alternatif lahan lain yang tersedia.

“Mengapa sekolah rakyat tidak dibangun saja di lahan kosong yang saat ini tersedia? Mengapa harus memindahkan pusat sejarah dan pengkaderan Pramuka yang telah hidup puluhan tahun di Cadika Limbung?” tanyanya kritis.

Bagi korps Pramuka Gowa, Cadika Limbung bukan sekadar hamparan tanah atau komoditas ruang semata. Di tempat itulah rahim proses pengkaderan Praja Muda Karana bergulir dari generasi ke generasi. Banyak tokoh, pemimpin, dan generasi pengabdi bangsa lahir setelah ditempa oleh semangat disiplin, kepemimpinan, dan pengabdian di bumi perkemahan tersebut.

“Sejarah tidak boleh diputus hanya karena perubahan kebijakan sesaat. Menjaga Cadika berarti menjaga warisan pendidikan karakter bagi generasi masa depan,” pungkas Faisal.