Mediatha.Com,Mamuju–– Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat melalui dukungan Balai Besar Pelatihan Kesehatan Makassar menggelar Pelatihan Pelayanan Kesehatan Usia Sekolah dan Remaja bagi Tenaga Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Tahun 2026.
Kegiatan berlangsung pada 26–30 Oktober 2026 di Grand Maleo Hotel, Mamuju, dengan sasaran meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang terstandar, berkualitas, dan berkelanjutan.
Pelatihan dibuka oleh Kepala DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim. Dalam sambutannya, ia menekankan, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pelayanan kesehatan primer, terutama dalam menjawab berbagai tantangan kesehatan yang dihadapi anak usia sekolah dan remaja.
“Kelompok usia sekolah dan remaja merupakan fase penting dalam siklus kehidupan. Permasalahan kesehatan pada kelompok ini tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mencakup status gizi, kesehatan reproduksi, kesehatan mental, perilaku berisiko, penyakit tidak menular, serta kebersihan dan sanitasi,” kata dr. Nursyamsi.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah anemia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 prevalensi anemia mencapai 16,3 persen pada anak usia 5–14 tahun dan 15,5 persen pada kelompok usia 15–24 tahun. Kondisi ini dapat berdampak pada konsentrasi belajar, daya tahan tubuh, dan produktivitas.
Melalui pelatihan ini, tenaga kesehatan dibekali pemahaman mengenai kebijakan dan standar pelayanan kesehatan usia sekolah dan remaja, pelaksanaan edukasi serta skrining kesehatan, pencegahan dan penanggulangan anemia, hingga pencatatan, pelaporan, dan tindak lanjut pelayanan.
Kegiatan dilaksanakan secara tatap muka selama lima hari, dengan total 34 jam pelajaran. Rangkaian pelatihan mencakup penyampaian materi, praktik, penugasan, dan praktik lapangan di sekolah. Sebanyak 30 tenaga kesehatan ditargetkan mengikuti pelatihan agar dapat menerapkan kompetensi yang diperoleh di fasilitas pelayanan kesehatan masing-masing.
Penguatan kapasitas tenaga kesehatan ini juga mendukung pelayanan kesehatan anak usia sekolah dan remaja melalui Puskesmas, Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), serta kerja sama dengan satuan pendidikan melalui Usaha Kesehatan Sekolah dan Madrasah (UKS/M). Dengan pendekatan tersebut, skrining, edukasi, dan tindak lanjut kesehatan diharapkan dapat berjalan lebih terarah dan berkesinambungan.
Pelaksanaan kegiatan ini sejalan dengan visi Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, yakni “Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera,” melalui pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter. Peningkatan kualitas layanan kesehatan bagi anak dan remaja menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung tumbuh kembang generasi muda yang sehat dan produktif.
Melalui pelatihan ini, DKPPKB Sulawesi Barat berharap kapasitas tenaga kesehatan semakin meningkat sehingga pelayanan kesehatan usia sekolah dan remaja dapat dilaksanakan secara lebih optimal, sekaligus memperkuat upaya promotif dan preventif di tingkat pelayanan kesehatan primer.
Naskah
Mamuju – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat melalui dukungan Balai Besar Pelatihan Kesehatan Makassar menggelar Pelatihan Pelayanan Kesehatan Usia Sekolah dan Remaja bagi Tenaga Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Tahun 2026.
Kegiatan berlangsung pada 26–30 Oktober 2026 di Grand Maleo Hotel, Mamuju, dengan sasaran meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang terstandar, berkualitas, dan berkelanjutan.
Pelatihan dibuka oleh Kepala DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim. Dalam sambutannya, ia menekankan, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pelayanan kesehatan primer, terutama dalam menjawab berbagai tantangan kesehatan yang dihadapi anak usia sekolah dan remaja.
“Kelompok usia sekolah dan remaja merupakan fase penting dalam siklus kehidupan. Permasalahan kesehatan pada kelompok ini tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mencakup status gizi, kesehatan reproduksi, kesehatan mental, perilaku berisiko, penyakit tidak menular, serta kebersihan dan sanitasi,” kata dr. Nursyamsi.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah anemia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 prevalensi anemia mencapai 16,3 persen pada anak usia 5–14 tahun dan 15,5 persen pada kelompok usia 15–24 tahun. Kondisi ini dapat berdampak pada konsentrasi belajar, daya tahan tubuh, dan produktivitas.
Melalui pelatihan ini, tenaga kesehatan dibekali pemahaman mengenai kebijakan dan standar pelayanan kesehatan usia sekolah dan remaja, pelaksanaan edukasi serta skrining kesehatan, pencegahan dan penanggulangan anemia, hingga pencatatan, pelaporan, dan tindak lanjut pelayanan.
Kegiatan dilaksanakan secara tatap muka selama lima hari, dengan total 34 jam pelajaran. Rangkaian pelatihan mencakup penyampaian materi, praktik, penugasan, dan praktik lapangan di sekolah. Sebanyak 30 tenaga kesehatan ditargetkan mengikuti pelatihan agar dapat menerapkan kompetensi yang diperoleh di fasilitas pelayanan kesehatan masing-masing.
Penguatan kapasitas tenaga kesehatan ini juga mendukung pelayanan kesehatan anak usia sekolah dan remaja melalui Puskesmas, Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), serta kerja sama dengan satuan pendidikan melalui Usaha Kesehatan Sekolah dan Madrasah (UKS/M). Dengan pendekatan tersebut, skrining, edukasi, dan tindak lanjut kesehatan diharapkan dapat berjalan lebih terarah dan berkesinambungan.
Pelaksanaan kegiatan ini sejalan dengan visi Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, yakni “Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera,” melalui pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter. Peningkatan kualitas layanan kesehatan bagi anak dan remaja menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung tumbuh kembang generasi muda yang sehat dan produktif.
Melalui pelatihan ini, DKPPKB Sulawesi Barat berharap kapasitas tenaga kesehatan semakin meningkat sehingga pelayanan kesehatan usia sekolah dan remaja dapat dilaksanakan secara lebih optimal, sekaligus memperkuat upaya promotif dan preventif di tingkat pelayanan kesehatan primer.
Naskah




