Mediatha.Com,Mamuju––Kapolda Sulawesi Barat, Irjen Pol Totok Suharyanto melaksanakan kunjungan silaturahmi ke Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Sulawesi Barat sebagai upaya mempererat hubungan kelembagaan antara Polri dan ulama sekaligus memperkuat kolaborasi dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), Selasa (27/10/26).
Kunjungan tersebut menjadi momentum penting untuk membangun komunikasi yang terbuka antara kepolisian dan keluarga besar Nahdlatul Ulama, termasuk para ulama, pengurus cabang, pondok pesantren, serta badan otonom NU yang tersebar di wilayah Sulawesi Barat.
Dalam suasana dialog yang penuh keakraban, kedua pihak membahas sejumlah persoalan strategis yang menjadi perhatian bersama, mulai dari pencegahan penyalahgunaan narkoba, antisipasi paham kekerasan dan radikalisme, hingga penguatan peran pesantren dalam membina generasi muda.
Kapolda Sulawesi Barat menegaskan pentingnya dukungan seluruh elemen masyarakat dalam pelaksanaan tugas kepolisian. Menurutnya, menjaga keamanan bukan hanya menjadi tanggung jawab Polri, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, tokoh agama, dan seluruh komponen bangsa.
Sinergi dengan para ulama dinilai memiliki peran penting karena pendekatan keamanan perlu berjalan beriringan dengan pembinaan moral, pendidikan keagamaan, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan.
Dalam dialog tersebut, perwakilan PWNU Sulawesi Barat menyampaikan komitmen keluarga besar NU untuk mendukung pelaksanaan tugas-tugas kenegaraan, khususnya dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan keharmonisan kehidupan masyarakat.
Dukungan tersebut mencakup peran para kiai, pengurus NU di tingkat wilayah dan cabang, badan otonom, serta pondok pesantren dalam membantu membangun kesadaran masyarakat dan mendorong penyelesaian persoalan sosial secara damai.
NU juga berharap komunikasi dan kerja sama dengan Polda Sulawesi Barat dapat terus diperkuat melalui dialog yang berkelanjutan, sehingga berbagai persoalan di tengah masyarakat dapat diidentifikasi dan ditangani secara bersama-sama.
Salah satu isu yang menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut adalah penyalahgunaan narkoba, terutama di kalangan usia produktif.
Perwakilan NU menilai bahwa penyalahgunaan narkoba dapat mengancam kualitas sumber daya manusia dan menghambat terwujudnya cita-cita Indonesia Emas 2045 apabila tidak dicegah sejak dini.
Karena itu, diperlukan kolaborasi antara Polri, ulama, pondok pesantren, keluarga, dan masyarakat untuk memperkuat edukasi, membangun ketahanan generasi muda, serta mencegah peredaran gelap narkoba.
Penanganan persoalan narkoba juga perlu dilakukan secara komprehensif melalui penegakan hukum terhadap jaringan peredaran, disertai pendekatan pemulihan bagi pengguna yang membutuhkan rehabilitasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam kesempatan yang sama, NU menyampaikan pentingnya perhatian bersama terhadap potensi berkembangnya paham kekerasan, radikalisme, dan tindakan yang dapat mengganggu kerukunan masyarakat.
Sulawesi Barat memiliki tradisi keagamaan dan kehidupan sosial yang beragam. Oleh karena itu, komunikasi antara kepolisian dan ulama menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga keharmonisan serta mencegah munculnya konflik di tengah masyarakat.
Perbedaan pandangan keagamaan diharapkan dapat disikapi melalui dialog, edukasi, dan pendekatan persuasif dengan tetap menghormati kebebasan beragama serta ketentuan hukum yang berlaku.
Melalui kolaborasi tersebut, Polri dan tokoh agama diharapkan dapat bersama-sama membangun suasana kehidupan beragama yang damai, toleran, dan kondusif.
Dialog juga mengangkat aspirasi pondok pesantren di lingkungan NU mengenai peluang lulusan pesantren untuk berkontribusi dalam institusi Polri.
Perwakilan NU menyampaikan bahwa santri tidak hanya memiliki kemampuan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga memiliki kompetensi dalam membaca dan memahami kitab kuning, ilmu fikih, tafsir, serta literatur keislaman klasik.
Kemampuan tersebut dinilai sebagai potensi sumber daya manusia yang dapat memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara.
NU berharap kompetensi keagamaan para santri dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan kebijakan rekrutmen Polri, sesuai dengan kebutuhan organisasi, persyaratan yang berlaku, serta prinsip seleksi yang transparan dan akuntabel.
Aspirasi tersebut sekaligus menjadi dorongan agar potensi pendidikan pesantren semakin dikenal dan memperoleh ruang untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional.
Kunjungan Kapolda Sulawesi Barat ke kantor PWNU tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga membuka ruang komunikasi untuk menyerap masukan dan aspirasi para ulama.
Melalui dialog tersebut, diharapkan terbangun hubungan yang semakin erat antara Polri dan Nahdlatul Ulama dalam mendukung pemeliharaan kamtibmas, pembinaan generasi muda, pencegahan narkoba, serta penguatan kerukunan masyarakat.
Sinergi antara kepolisian dan tokoh agama merupakan salah satu modal sosial penting dalam menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan harmonis.
Dengan semangat kebersamaan, Polda Sulawesi Barat dan keluarga besar NU diharapkan terus memperkuat kolaborasi demi terwujudnya masyarakat Sulawesi Barat yang aman, sejahtera, dan semakin maju.
Humas Polda Sulbar



