Mediatha.Com,Mamuju—Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Sulawesi Barat menggelar Workshop Penguatan Kapasitas dan Pendampingan Pelaporan Safeguard SIS REDD+ di Provinsi Sulawesi Barat. Kegiatan berlangsung di Hotel Aflah Mamuju dan dibuka langsung oleh Kepala DLHK Sulbar, Zulkifli Manggazali, didampingi Sekretaris DLHK Sulbar, Suharnani Kahir.
Workshop berlangsung selama dua hari, 12–13 Agustus 2026, mulai pukul 08.00 WITA hingga selesai. Peserta berasal dari sejumlah perangkat daerah dan unsur terkait, termasuk DLHK Sulbar, Sekretariat Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Barat, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan, serta Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah. Total peserta yang tercantum dalam undangan sebanyak 21 orang.
Workshop ini merupakan bagian dari upaya sinkronisasi dan optimalisasi program serta kegiatan kerja sama Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dengan Lembaga Perantara (LEMTARA) Sulawesi Cipta Forum (SCF) melalui program RBP GCF REDD+ Output II. Kegiatan ini sekaligus mendukung implementasi REDD+ di Sulawesi Barat, khususnya melalui penerapan Safeguards Information System (SIS) REDD+.
Kegiatan ini menjadi salah satu langkah DLHK Sulbar dalam mendorong tata kelola lingkungan dan kehutanan yang lebih terintegrasi, transparan, dan berkelanjutan, sejalan dengan komitmen Gubernur Sulbar Suhardi Duka, dalam mendukung upaya pengendalian perubahan iklim dan perlindungan lingkungan.
Dalam sambutannya, Kepala DLHK Sulbar Zulkifli Manggazali, yang juga selaku Wakil Ketua Pokja REDD+ Sulawesi Barat menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, narasumber, fasilitator, Tim Pokja Safeguard REDD+, Yayasan SCF, serta perangkat daerah terkait yang berkontribusi dalam kegiatan tersebut.
Ia menegaskan bahwa SIS REDD+ memiliki peran penting dalam memastikan implementasi REDD+ berjalan secara transparan, akuntabel, serta tetap memperhatikan aspek lingkungan dan sosial.
Kepala DLHK Sulbar berharap workshop tersebut dapat memperkuat pemahaman bersama, koordinasi antar-OPD, serta kualitas data dan bukti dukung dalam pelaporan Safeguard SIS REDD+. Menurutnya, keberhasilan implementasi REDD+ tidak hanya diukur dari penurunan emisi, tetapi juga dari kemampuan memastikan perlindungan masyarakat, keanekaragaman hayati, dan keberlanjutan lingkungan.
“Workshop ini harus menjadi ruang kerja bersama untuk menghasilkan sesuatu yang konkret,” tegas Zulkifli.
Zulkifli juga mengajak seluruh peserta mengikuti kegiatan secara aktif, terbuka, dan kolaboratif serta memastikan hasil workshop dapat ditindaklanjuti setelah kegiatan selesai.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun pemahaman dan kapasitas yang semakin kuat dalam penerapan SIS REDD+, sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor dalam mendukung implementasi REDD+ di Provinsi Sulawesi Barat.




