Mediatha.Com,Mamuju—-Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat terus memperkuat upaya percepatan penanggulangan Tuberkulosis (TBC) melalui penguatan Public-Private Mix (PPM) serta perluasan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) di tingkat kabupaten di Pasangkayu, Rabu 19 Agustus 2026.
Sebagai bagian dari langkah tersebut, DKPPKB Sulawesi Barat mengikuti Pertemuan Koordinasi Perencanaan Implementasi PPM TBC dan Perluasan TPT di tingkat kabupaten yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Pasangkayu.
Pertemuan ini diarahkan untuk memperkuat koordinasi lintas program dan lintas sektor dalam pelaksanaan penanggulangan TBC, sekaligus menyusun langkah implementasi yang lebih terarah sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing kabupaten.
Kepala DKPPKB Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim menyampaikan penguatan PPM menjadi penting untuk memastikan penanggulangan TBC tidak hanya bergantung pada layanan pemerintah, tetapi melibatkan berbagai jejaring pelayanan kesehatan dan pemangku kepentingan dalam menemukan, mengobati dan mencegah penularan TBC. Sementara itu, perluasan TPT menjadi salah satu perhatian penting dalam strategi pencegahan TBC.
Ia mengungkapkan, berdasarkan baseline program GARATTA TBC, tiga desa lokus di Kabupaten Majene sebelumnya belum memiliki capaian TPT yang optimal, bahkan dua desa tercatat belum memiliki penerima TPT. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu fokus utama intervensi GARATTA TBC.
“DKPPKB Sulbar mendorong agar perluasan TPT berjalan beriringan dengan penguatan investigasi kontak dan skrining aktif berbasis komunitas sebagai upaya yang sejalan dengan Visi “Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera” yang digagas oleh Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka,” ucapnya.
Model tersebut telah diterapkan melalui GARATTA TBC (Gerakan Aktif Masyarakat dan Tenaga Kesehatan Terpadu dalam Penanggulangan Tuberkulosis) yang dikembangkan sebagai model penanggulangan TBC berbasis komunitas, partisipatif dan terintegrasi.
Dalam implementasinya, GARATTA TBC melibatkan Puskesmas, pemerintah desa, kader kesehatan, keluarga pasien, tokoh masyarakat dan unsur lintas sektor. Kolaborasi tersebut diarahkan pada skrining aktif, investigasi kontak serumah, pemberian TPT serta pendampingan pasien TBC.
Hasil awal implementasi di tiga desa lokus juga menunjukkan peningkatan pemberian TPT. Di Desa Bonde Utara, rata-rata penerima TPT meningkat dari 0,2 orang per bulan menjadi 8 orang per bulan, sementara Desa Palipi Soreang dan Desa Bonde yang sebelumnya belum memiliki penerima TPT masing-masing mencapai rata-rata 3,5 dan 2 orang per bulan selama implementasi.
Capaian tersebut menjadi pembelajaran penting untuk memperluas pendekatan serupa di wilayah lainnya di Sulawesi Barat.
Melalui pertemuan koordinasi ini, DKPPKB Sulbar mendorong tersusunnya perencanaan PPM TBC yang lebih terintegrasi serta strategi perluasan TPT yang dapat dilaksanakan secara nyata di tingkat kabupaten hingga desa.
Penguatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Sulawesi Barat dalam mempercepat eliminasi TBC melalui pendekatan yang lebih aktif, kolaboratif dan berbasis masyarakat.
DKPPKB Sulbar berkomitmen memperkuat kolaborasi, memperluas pencegahan dan memastikan setiap masyarakat yang berisiko mendapatkan akses terhadap skrining dan pencegahan TBC.



